1
Sejak
kecil,Clarice selalu sendiri.Tak pernah ada yang mau mengurusinya karena
keanehan-keanehan yang akan muncul kalau berada terlalu lama bersama nya,ada
saja barang-barang yang terbakar atau meleleh begitu saja setiap Clarice merasa
kesal.Setiap saat,ia harus berpindah dari rumah kerabat nya ke kerabat
lainnya.Akhirnya di kerabat terakhirnya,Clarice sudah merasa muak.Setelah
mengemas buku-buku kuno peninggalan kaket buyutnya yang diturunkan pada nya
setelah orang tuanya meninggal dan gelang peraknya yang tak bisa dilepas dari
tangan kanan nya,ia kabur.
Beberapa jam
berjalan,membuat Clarice merasa lelah.Apalagi,sebelum kabur ia terlalu muak
untuk mengisi perutnya karena harus berhadapan dengan tantenya yang sudah pasti
menyiap jutaan omelan.Bukannya kenyang karena makanan,Clarice malah kenyang
mendengar ocehan tantenya itu.Selain merasa lapar,kerongkongannya pun mulai
kekeringan.Tak kuat berjalan lagi,ia berhenti di sebuah rumah yang dilihatnya
cukup tua dan terlihat tak berpenghuni.Dengan langkah gontai,ia memasuki rumah
itu.Melihat hari yang mulai gelap,ia memutuskan untuk menginap di rumah itu.
Hujan yang
tiba-tiba turun,membuat suasana rumah tua itu semakin muram, untungnya Clarice
menemukan beberapa makanan kering di lemari dapur.Tak segan-segan ia segera
menghabiskan beberapa potong roti yang ternyata masih layak di makan.Tiba-tiba
keheningan rumah itu terpecah,suara pintu terbuka memenuhi rumah.Langkah kaki
beberapa orang dapat terdengar dari dapur yang letaknya cukup jauh dari pintu
depan . Clarice dengan hati -hati melangkah ke pintu depan untuk melihat siapa
yang datang.
Setelah cukup dekat,Clarice dapat melihat 4 orang anak yang dipimpin permpuan paru baya dan laki-laki yang kelihatan cukup tua,yang membuat Clarice teringat dengan kakek buyutnya.
Setelah cukup dekat,Clarice dapat melihat 4 orang anak yang dipimpin permpuan paru baya dan laki-laki yang kelihatan cukup tua,yang membuat Clarice teringat dengan kakek buyutnya.
“Seperti nya ada
yang datang”kata permpuan itu
“Ya,pintu depan
terbuka,padahal hanya orang yang punya fragments saja yang bisa melihat rumah
ini..”jawab laki-laki di sampingnya.
Anak-anak di
belakangnya tampak kurang nyaman dengan suasana itu. Wajah mereka memancarkan
rasa takut dan khawatir yang mendalam.
“Apa ini penculikkan?!”pikir Clarice yang
membuatnya tak tahan untuk bergerak,emosinya memuncak.Entah beberapa hari ini
ia tak tahan melihat orang lain bertimndak semena-mena apa lagi ke anak-anak
kecil seumurannya.
Dengan emosi
yang tak terkendali,beberapa benda logam di sekitar Clarice mulai meleleh dan
beberapa kayu rumah itu mulai hangus.Clarice yang menyadari nya berusaha
menahannya , namun terlambat.
“Siapa
disana?”ujar perempuan itu sambil memadamkan api-api yang dibuat Clarice dengan
es yang dimunculkannya entah dari mana.
“Nak,keluarlah...Kami
tidak akan menyakitimu.Kami malah akan melindungimu”kata laki-laki itu.
“Clarice?Kau kah
itu??”terdengar suara anak perempuan yang entah kenapa terasa familiar.
Dengan penasaran
Clarice keluar dari persembunyiannya dan mendapati Karen,teman kecilnya,berada
di sana.
“Karen?Kenapa
kau di sini?”tanya Clarice sambil menjaga sedikit jarak dengan orang-orang
dewasa yang terus mengawasi nya.
“Mereka akan
menyelamatkan kita.Clarice,nyawa kita terancam.Ada beberapa orang yang berusaha
menghentikan pengguna fragments seperti kita ini..”ujar Karen.Hanya sedikit
kata-kata Karen yang dapat Clarice cerna.
“Nak Clarice,kau
adalah nurturer sama seperti teman mu
dan beberapa anak ini dan juga kami berdua.Kita bisa mengndalikan elemen sesuai
frgments yang kita kuasai.”kata laki-laki itu.
”Apa itu
frag..”.Pembicaraan kami terhenti saat terdengar sebuah ledakan yang keras di
bagian halaman depan.
“Kapten Cedric,para
destroyer sudah datang.Tak ada waktu
lagi,kita haru segera kembali ke markas..”seru perempuan itu.
“Clarice,percayalah
pada kami.Ikutlah kami,kekuatanmu dapat di pergunakan untuk hal penting
lainnya,bukannya berhenti di sini untuk di hancurkan..”kata Cedric berusaha
meyakinkan Clarice.
”Kirie,buka
pintu nya..Clarice cepat putuskan..”lanjut Cedric,di wajahnya tersirat sebuah
kekhawatiran.
Ia benar-benar mirip kakek.pikir Clarice
“Baik,aku
ikut..”ucap Clarice sambil menggandeng tangan Karen.
”Aku juga nggak
ingin berpisah lagi dengan mu Karen..”tambah Clarice yang di sambut senyum dari
Karen.Dengan cepat mereka ber-7 melompat ke portal buatan Kirie.
Sesaat kemudia mereka
telah sampai di sebuah hutan belantara.Cedric menyuruh Clarice dan ke-4 anak
lainnya untuk menunggu sebentar di hutan saat mereka akan membuka jalan ke markas.
“Jadi,kau
Clarice?Perkenalkan aku Charlie Jeremiah,biasa dipanggil C.J.”ujar salah satu
anak mendekati Clarice dan Karen yang terlihat sedikit menjauh.
Memang,dia dan
Karen bukan tipe orang yang gampang percaya dengan orang lain.
“Ya,aku
Clarice,Clarice Maurrine.”jawab Clarice datar
“Aku Fern,Fern
Jonathans..”ujar sorang anak yang segera berkumpul dalam lingkaran.
“Aku Marco
Gerald..”ucap seorang anak laki-laki,yang di balas Karen dengan cepat.
”Aku Karen,Karen
Medellaine”.Clarice,CJ,dan Fern dapat melihat gelagat aneh Marco dan Karen.
“Hhm..”gumam mereka
bertiga bertiga bersamaan.
“Hei..”ujar
Marco dan Karen hampir bersamaan yang di sambut pecah tawa mereka berlima.
Clarice mulai
merasa nyaman berada di sekitar teman-teman barunya.Mungkin ini yang di carinya
dari dulu sampai ia nekat kabur dari rumah kerabatnya.
Bertemu dengan orang yang bisa saling mengerti ada
bagus nya juga,pikir
Clarice.
“Hei,Clarice..”ujar
CJ membuyarkan lamunan Clarice.
“Hah?!A,Apa?”jawab
Clarice gelagapan.
“Hahaha,dasar,kami
cuma tanya,fragments mu apa??”kata Fern.
“Fragments?Ouhw,kekuatan
aneh ku yang sering muncul?”tanya Clarice bingung yang di sambut anggukan
kepala yang lain.
”Aku juga nggak
tahu,yang pasti setiap aku marah barang logam di sekitarku meleleh dan beberapa
benda terbakar,api mungkin?”
“Kalau begitu
fragments mu sama dengan ku”balas Marco.
“Kalau kau apa
Kar?”tanya Clarice penasaran
“Tanah..Tiap
kali aku sedih,pasti ada lantai yang retak atau daun pohon yang kulewati pasti
layu semua..”ujar Karen malu.
“Pasti
merepotkan..”balas Marco
“Ya,memang.Aku
jadi takut menangis..”jawab Karen
“Sudah,hentikan,aku
nggak kuat melihat adegan ‘dunia milik kita berdua’ ini lagi...”goda CJ.
“Kalau begitu
fragments mu apa?”ujar Marco kesal.
“Aku,lihat
ini..”Tiba-tiba seberkas kilat menyambar.
“Petir..”ucap
Clarice tanpa sadar.
“Ya,ada
lagi.Kalau aku marah,petir nya bakal tambah banyak,kalau sedih pasti turun
hujan..”kata CJ dengan bangganya.
“Ya,kau memang
hebaaat deh..”ujar Fern sambil tersenyum nakal.Entah kenapa Clarice merasa aneh
melihat seyum itu.
“Bagaimana
dengan mu Fern?”tanya CJ nggak sabar.
“Udara”jawab
Fern singkat.”Jangan buat aku marah kalau nggak mau melihat benda-benda di
sekitar mu melayang semua”lanjutnya dengan mimik serius yang mengundang tawa anak-anak
lainnya.
“Hei,aku
serius..”kata Fern sambil pura-pura memasang muka marah.
“Sudah cukup
main-mainnya anak-anak,pintu markas sudah terbuka..”kata Cedric membuat Clarice dan yang lainnya terlonjak kaget.
“Kapten,ada
tanda-tanda keberadaan destroyer di radius 2 km,lebih baik kalau kita bergerak
sekarang”kata Kirie.Cedric dengan sigap segera membuat jalan di tengah hutan
belantara itu dengan fragments nya.Mereka terus berlari hingga tiba di ujung
sebuah jurang yang dalam.
“Bagaimana kita
bisa lewat?”seru Clarice spontan menyadari teman-temannya yang lain tak berani
bertanya.
“Kita nggak akan
melompatkan?”tanya Karen melanjutkan pertanyaan Clarice.
“Tentu
nggak,Karen sayang...Kirie,bisa gunakan fragments mu??”tanya Cedric.
“Baik,Kapten..”ucap
Kirie.
“Dari
tadi,rasanya,Kirie,nggak berekspresi sedikit pun,ya”bisik Clarice pada Karen.
“Ya,aku juga
merasa aneh...”balas Karen.
“Hei,jangan
ngomongi orang sembarangan”timpal Fern dari belakang dua anak itu yang menarik
perhatian yang lain.
“Kalian
ngomongin apa sih?”tanya CJ yang memang dasarnya adalah anak yang ingin tahu.
“Mereka bilang
kalau..”
“Nggak nggak ada
apa-apa kok!!”ujar Clarice cepat sambil menutup mulut Fern yang mengundang
tanya dari CJ,Marco,Cedric dan Kirie.Dengan cepat Clarice menarik Fern menjauh
dari semuanya.
“Jangan bilang
yang lain..Kalau nggak..”
“Kalau
nggak?”potong Fern
“Kalau
nggak,a..akh,yang penting kamu nggak boleh bilang..”teriak Clarice.
“Kalau gitu..Aku
bakal mengunci mulut ku kalau kau menuruti kata-kata ku..”seru Fern yang dengan
terpaksa harus Clarice turuti karena Kirie berjalan mendekati mereka.
“Kalian mau
berbicara sampai kapan?Ayo,kalian mau tertangkap destroyer?”kata Kirie dengan
nada datarnya dan mengarahkan jalan ke tangga es yang sudah di buatnya.Fern
menyuruh Kirie pergi duluan membuat Clarice dan Fern tertinggal di belakang.
“Jangan lupa
janjimu...”bisik Fern cepat di telinga Clarice sebelum akhirnya ia berlari
menaiki tangga itu.
“Sial,kenapa
harus ketahuan sama dia sih..”,keluh Clarice.
No comments:
Post a Comment