Sunday, July 21, 2013

Fragment #1



1

Sejak kecil,Clarice selalu sendiri.Tak pernah ada yang mau mengurusinya karena keanehan-keanehan yang akan muncul kalau berada terlalu lama bersama nya,ada saja barang-barang yang terbakar atau meleleh begitu saja setiap Clarice merasa kesal.Setiap saat,ia harus berpindah dari rumah kerabat nya ke kerabat lainnya.Akhirnya di kerabat terakhirnya,Clarice sudah merasa muak.Setelah mengemas buku-buku kuno peninggalan kaket buyutnya yang diturunkan pada nya setelah orang tuanya meninggal dan gelang peraknya yang tak bisa dilepas dari tangan kanan nya,ia kabur.

Beberapa jam berjalan,membuat Clarice merasa lelah.Apalagi,sebelum kabur ia terlalu muak untuk mengisi perutnya karena harus berhadapan dengan tantenya yang sudah pasti menyiap jutaan omelan.Bukannya kenyang karena makanan,Clarice malah kenyang mendengar ocehan tantenya itu.Selain merasa lapar,kerongkongannya pun mulai kekeringan.Tak kuat berjalan lagi,ia berhenti di sebuah rumah yang dilihatnya cukup tua dan terlihat tak berpenghuni.Dengan langkah gontai,ia memasuki rumah itu.Melihat hari yang mulai gelap,ia memutuskan untuk menginap di rumah itu.

Hujan yang tiba-tiba turun,membuat suasana rumah tua itu semakin muram, untungnya Clarice menemukan beberapa makanan kering di lemari dapur.Tak segan-segan ia segera menghabiskan beberapa potong roti yang ternyata masih layak di makan.Tiba-tiba keheningan rumah itu terpecah,suara pintu terbuka memenuhi rumah.Langkah kaki beberapa orang dapat terdengar dari dapur yang letaknya cukup jauh dari pintu depan . Clarice dengan hati -hati melangkah ke pintu depan untuk melihat siapa yang datang.
Setelah cukup dekat,Clarice dapat melihat 4 orang anak yang dipimpin permpuan paru baya dan laki-laki yang kelihatan cukup tua,yang membuat Clarice teringat dengan kakek buyutnya.
“Seperti nya ada yang datang”kata permpuan itu
“Ya,pintu depan terbuka,padahal hanya orang yang punya fragments saja yang bisa melihat rumah ini..”jawab laki-laki di sampingnya.

Anak-anak di belakangnya tampak kurang nyaman dengan suasana itu. Wajah mereka memancarkan rasa takut dan khawatir yang mendalam.
Apa ini penculikkan?!”pikir Clarice yang membuatnya tak tahan untuk bergerak,emosinya memuncak.Entah beberapa hari ini ia tak tahan melihat orang lain bertimndak semena-mena apa lagi ke anak-anak kecil seumurannya.
Dengan emosi yang tak terkendali,beberapa benda logam di sekitar Clarice mulai meleleh dan beberapa kayu rumah itu mulai hangus.Clarice yang menyadari nya berusaha menahannya , namun terlambat.
“Siapa disana?”ujar perempuan itu sambil memadamkan api-api yang dibuat Clarice dengan es yang dimunculkannya entah dari mana.
“Nak,keluarlah...Kami tidak akan menyakitimu.Kami malah akan melindungimu”kata laki-laki itu.
“Clarice?Kau kah itu??”terdengar suara anak perempuan yang entah kenapa terasa familiar.
Dengan penasaran Clarice keluar dari persembunyiannya dan mendapati Karen,teman kecilnya,berada di sana.
“Karen?Kenapa kau di sini?”tanya Clarice sambil menjaga sedikit jarak dengan orang-orang dewasa yang terus mengawasi nya.
“Mereka akan menyelamatkan kita.Clarice,nyawa kita terancam.Ada beberapa orang yang berusaha menghentikan pengguna fragments seperti kita ini..”ujar Karen.Hanya sedikit kata-kata Karen yang dapat Clarice cerna.
“Nak Clarice,kau adalah nurturer sama seperti teman mu dan beberapa anak ini dan juga kami berdua.Kita bisa mengndalikan elemen sesuai frgments yang kita kuasai.”kata laki-laki itu.
”Apa itu frag..”.Pembicaraan kami terhenti saat terdengar sebuah ledakan yang keras di bagian halaman depan.
“Kapten Cedric,para destroyer sudah datang.Tak ada waktu lagi,kita haru segera kembali ke markas..”seru perempuan itu.
“Clarice,percayalah pada kami.Ikutlah kami,kekuatanmu dapat di pergunakan untuk hal penting lainnya,bukannya berhenti di sini untuk di hancurkan..”kata Cedric berusaha meyakinkan Clarice.
”Kirie,buka pintu nya..Clarice cepat putuskan..”lanjut Cedric,di wajahnya tersirat sebuah kekhawatiran.
Ia benar-benar mirip kakek.pikir Clarice
“Baik,aku ikut..”ucap Clarice sambil menggandeng tangan Karen.
”Aku juga nggak ingin berpisah lagi dengan mu Karen..”tambah Clarice yang di sambut senyum dari Karen.Dengan cepat mereka ber-7 melompat ke portal buatan Kirie.

Sesaat kemudia mereka telah sampai di sebuah hutan belantara.Cedric menyuruh Clarice dan ke-4 anak lainnya untuk menunggu sebentar di hutan saat mereka akan membuka jalan ke markas.
“Jadi,kau Clarice?Perkenalkan aku Charlie Jeremiah,biasa dipanggil C.J.”ujar salah satu anak mendekati Clarice dan Karen yang terlihat sedikit menjauh.
Memang,dia dan Karen bukan tipe orang yang gampang percaya dengan orang lain.
“Ya,aku Clarice,Clarice Maurrine.”jawab Clarice datar
“Aku Fern,Fern Jonathans..”ujar sorang anak yang segera berkumpul dalam lingkaran.
“Aku Marco Gerald..”ucap seorang anak laki-laki,yang di balas Karen dengan cepat.
”Aku Karen,Karen Medellaine”.Clarice,CJ,dan Fern dapat melihat gelagat aneh Marco dan Karen.
“Hhm..”gumam mereka bertiga bertiga bersamaan.
“Hei..”ujar Marco dan Karen hampir bersamaan yang di sambut pecah tawa mereka berlima.

Clarice mulai merasa nyaman berada di sekitar teman-teman barunya.Mungkin ini yang di carinya dari dulu sampai ia nekat kabur dari rumah kerabatnya.
Bertemu dengan orang yang bisa saling mengerti ada bagus nya juga,pikir Clarice.
“Hei,Clarice..”ujar CJ membuyarkan lamunan Clarice.
“Hah?!A,Apa?”jawab Clarice gelagapan.
“Hahaha,dasar,kami cuma tanya,fragments mu apa??”kata Fern.
“Fragments?Ouhw,kekuatan aneh ku yang sering muncul?”tanya Clarice bingung yang di sambut anggukan kepala yang lain.
”Aku juga nggak tahu,yang pasti setiap aku marah barang logam di sekitarku meleleh dan beberapa benda terbakar,api mungkin?”
“Kalau begitu fragments mu sama dengan ku”balas Marco.
“Kalau kau apa Kar?”tanya Clarice penasaran
“Tanah..Tiap kali aku sedih,pasti ada lantai yang retak atau daun pohon yang kulewati pasti layu semua..”ujar Karen malu.
“Pasti merepotkan..”balas Marco
“Ya,memang.Aku jadi takut menangis..”jawab Karen
“Sudah,hentikan,aku nggak kuat melihat adegan ‘dunia milik kita berdua’ ini lagi...”goda CJ.
“Kalau begitu fragments mu apa?”ujar Marco kesal.
“Aku,lihat ini..”Tiba-tiba seberkas kilat menyambar.
“Petir..”ucap Clarice tanpa sadar.
“Ya,ada lagi.Kalau aku marah,petir nya bakal tambah banyak,kalau sedih pasti turun hujan..”kata CJ dengan bangganya.
“Ya,kau memang hebaaat deh..”ujar Fern sambil tersenyum nakal.Entah kenapa Clarice merasa aneh melihat seyum itu.
“Bagaimana dengan mu Fern?”tanya CJ nggak sabar.
“Udara”jawab Fern singkat.”Jangan buat aku marah kalau nggak mau melihat benda-benda di sekitar mu melayang semua”lanjutnya dengan mimik serius yang mengundang tawa anak-anak lainnya.
“Hei,aku serius..”kata Fern sambil pura-pura memasang muka marah.
“Sudah cukup main-mainnya anak-anak,pintu markas sudah terbuka..”kata Cedric membuat  Clarice dan yang lainnya terlonjak kaget.
“Kapten,ada tanda-tanda keberadaan destroyer di radius 2 km,lebih baik kalau kita bergerak sekarang”kata Kirie.Cedric dengan sigap segera membuat jalan di tengah hutan belantara itu dengan fragments nya.Mereka terus berlari hingga tiba di ujung sebuah jurang yang dalam.
“Bagaimana kita bisa lewat?”seru Clarice spontan menyadari teman-temannya yang lain tak berani bertanya.
“Kita nggak akan melompatkan?”tanya Karen melanjutkan pertanyaan Clarice.
“Tentu nggak,Karen sayang...Kirie,bisa gunakan fragments mu??”tanya Cedric.
“Baik,Kapten..”ucap Kirie.
“Dari tadi,rasanya,Kirie,nggak berekspresi sedikit pun,ya”bisik Clarice pada Karen.
“Ya,aku juga merasa aneh...”balas Karen.
“Hei,jangan ngomongi orang sembarangan”timpal Fern dari belakang dua anak itu yang menarik perhatian yang lain.
“Kalian ngomongin apa sih?”tanya CJ yang memang dasarnya adalah anak yang ingin tahu.
“Mereka bilang kalau..”
“Nggak nggak ada apa-apa kok!!”ujar Clarice cepat sambil menutup mulut Fern yang mengundang tanya dari CJ,Marco,Cedric dan Kirie.Dengan cepat Clarice menarik Fern menjauh dari semuanya.
“Jangan bilang yang lain..Kalau nggak..”
“Kalau nggak?”potong Fern
“Kalau nggak,a..akh,yang penting kamu nggak boleh bilang..”teriak Clarice.
“Kalau gitu..Aku bakal mengunci mulut ku kalau kau menuruti kata-kata ku..”seru Fern yang dengan terpaksa harus Clarice turuti karena Kirie berjalan mendekati mereka.
“Kalian mau berbicara sampai kapan?Ayo,kalian mau tertangkap destroyer?”kata Kirie dengan nada datarnya dan mengarahkan jalan ke tangga es yang sudah di buatnya.Fern menyuruh Kirie pergi duluan membuat Clarice dan Fern tertinggal di belakang.
“Jangan lupa janjimu...”bisik Fern cepat di telinga Clarice sebelum akhirnya ia berlari menaiki tangga itu.
“Sial,kenapa harus ketahuan sama dia sih..”,keluh Clarice.

No comments:

Post a Comment