3
Suasana terasa
hening sejak mereka keluar dari ruang Alchemy.Orang-orang yang sedari tadi
berjalan hilir mudik seperti hilang di telan bumi.Karen mulai ketakutan
sementara Clarice,Marco,Fern dan CJ tahu ada yang aneh.
“Ada apa Clare?”tanya
Karen dari balik baju Clarice.
“Keluarkan
amplifier stone mu!Ada yang nggak beres”jawab Clarice sambil terus meningkatkan
kewaspadaannya.
Tepat seperti
dugaan Clarice,muncul monster-monster hitam kelam menyerang mereka.Clarice yang
sudah bersiap dari tadi menyerang mereka satu persatu.Serangan panah apinya
melenyapkan sebagian monster-monster itu.Marco dan Karen menggunakan kekuatan
mereka bersamaan yang menghasilkan serangan kombinasi “MeteorCrush”.
Serangan itu
menghancurkan sisa monster lainnya.
“Hei,hebat juga
kalian..”puji CJ sambil tertawa keras.
“Nggak
juga,kok..”jawab Marco.
Tiba-tiba muncul
monster hitam itu lagi namun kali ini ukurannya lebih besar,kelima anak itu
melihatnya dengan takjub.
“Wow..Ini baru
namanya monster..Marc,keluarkan meteormu lagi..”seru CJ sambil terus mencoba
memperkirakan tinggi monster itu.
“Sorry,Charlie..Cuma
bisa di pakai sekali.”jawab Marco sedikit tersenyum.
Monster itu
mengejar ke lima anak itu.Seberapa jauh pun mereka berlari monster itu tetap
mengejarnya.Clarice mulai kesal.
Ia berhenti.
Teman-temannya
terkejut melihat tindakannya.
“Clare kau mau
apa??Ayo lari!!”teriak Karen panik.
“Kalian saja.Aku
sudah nggak mau lari lagi!”balas Clarice sambil menyiapkan kuda-kudanya.
Monster itu semakin
mendekat.Tak ada satupun serangan Clarice yang melukai monster itu,seperti ada
penghalang kuat yang melindunginya.Monster itu terus bergerak maju.Clarice
semakin terdesak. Pikirannya kacau.Semuannya terasa lebih gelap.Tiba-tiba ia
merasakan kehangatan menyelimutinya.
Kekuatannya
meluap.
“SunBlaze”teriakknya
Monster itu
terlempar.Tangan kanannya meleleh.Ia meraung dan mengeluarkan suara
mengerikan.Dengan cepat ia berlari dan mendekati Clarice.Hampir saja Clarice
terinjak.Tiba-tiba muncul penghalang batu yang menahan serangan monster itu
diikuti munculnya angin tornado kencang dan panah-panah petir yang membuat
monster itu mundur.Kesadaran Clarice semakin menghilang.Entah kenapa ia merasa
aman dan nyaman dalam kehangatan yang tiba-tiba menyelubunginya.
“Clare kau nggak
apa?”
“Clarice!!Hei,sadarlah!!”
“Clarice!!!”
Clarice
tersentak bangun.
Ia melihat
lingkaran api besar mengelilinginya.Karen menatapnya penuh cemas namun entah
kenapa Karen mulai terkekeh kecil diikuti Marco dan CJ.
“Hei,kalian
kenapa?”tanya Clarice bingung.
Karen memberikan
sinyal tangan ke Clarice untuk melihat ke atas.Terperanjat dengan apa yang
dilihatnya,ia berusaha menjauh.Namun Fern menahannya.
“He...hei..”ujar
Clarice memerah.
“Istirahatlah,kau
akan merasa baikan.Aliran energi mu belum normal.”kata Fern lembut.
Clarice
terkejut.Ini pertama kalinya ia melihat Fern seperti ini.
Monster itu
terus berusaha menerjang penghalang buatan Marco.Untungnya penghalang itu cukup
kuat untuk menahannya.
“Clarice kamu
sudah nggak apa?”tanya CJ.
“Ya.Oh,ya,CJ,kalau
boleh tahu,siapa yang menghancurkan tangan kanan monster itu?”tanya Clarice
polos
“Hei,jangan
aneh-aneh,Clare.Itu kan kamu,habis ngomong SunBlaze muncul cahaya terang dan
tangannya meleleh..”terang Karen cepat.
“Ma,masa??”tanya
Clarice nggak percaya.
“Ya..”jawab CJ
dan Karen berbarengan
“Teman-teman..,aku
butuh sedikiit bantuan...”
“Akh,maaf
Marc..Kenapa??”tanya CJ
“Aku sudah nggak
kuat nahan penghalangnya,Charlie!!!!”teriak Marco
Clarice segera
berdiri dan mempersiapkan kuda-kudanya kembali.Kini energinya benar-benar
pulih.Ia sudah berharap untuk melelehkan monster itu seutuhnya walau ia masih
nggak tahu apa yang ia lakukan sebelumnya.Tapi,entah kenapa ia tahu apa yang
harus dilakukannya.Dengan cepat Clarice berjalan ke penghalang buatan Marco dan
mencoba membukanya.
“Jangan..Jangan
Clare..”tahan Fern
“Tapi,nggak ada
cara lain.Nggak mungkin kan kita nyuruh Marco terus membuat penghalang seumu
hidupnya??”bantah Clarice
“Nggak,aku nggak
mau kamu terluka lagi.”
“Memang nya kita
harus apa?”Clarice berusaha menenangkan dirinya.
“Aku pernah
dengar sesuatu tentang golem.CJ,Karen,kemarilah,aku punya rencana..”
Marco bersiap di
posisinya,begitu pula CJ dan Clarice.Segera setelah Fern mengeluarkan
tanda,Marco melepas penghalangnya dan CJ berlari membuat petir untuk
mengalihkan perhatian mosnter itu.Karen membuat pijakan tanah untuk
Clarice.Fern membuat sebuah pusaran untuk mengangkat pijakan itu sehingga
jaraknya hanya beberapa meter dari kepala monster itu.
“Clarice cepat
serang matanya!!”teriak Fern
“OK!PhoenixArrow”
Dengan satu
serangan monster itu jatuh dan pecah berkeping-keping.Anak-anak bersorak
kegirangan tak terkecuali Karen.Walau hanya sekejap kelengahan Karen membuat
pijakan Clarice menjadi goyah.Dengan kecepatan penuh Clarice terjatuh ke
bawah.Semuanya berteriak panik namun tak ada yang sempat membuat
penahan.Clarice tak tahu harus melakukan apa.Apa ini akhir hidupnya.
Setelah beberapa
menit anehnya Clarice tak merasa sakit malah ia kedinginan.Dengan pelan ia
membuka matanya,melihat sekelilingnya.Ia selamat,muncul sebuah pijakan es yang
Clarice ingat mirip seperti pijakan es buatan Kirie.
“Ini aneh,Kirie tak ada di sini.Tapi
kenapa?Jangan-jangan!!”
“Cedric!!Kau
disini kan?Perlihatkan dirimu!”teriak Clarice
Dalam sekejap
bentuk ruangan berubah.Cahaya terang memenuhi ruangan membuat anak-anak itu tak
dapat melihat apa-apa.Setelah beradaptasi dengan terangnya ruangan itu,Clarice
melihat Cedrid,Kirie,Daniel bahkan Emy beserta beberapa orang dewasa lainnya
melihat mereka.Cedric mendatangi mereka serta memberi ucapan selamat atas
kelulusan masuk menjadi siswa di akademi Al-Grament.Suasana yang semenit lalu
masih diliputi ketegangan kini telah mencair.
“Kalian
benar-benar hebat mampu mengalahkan shadow creature itu.”ujar Cedric
Jadi itu sebutan mereka.pikir Clarice
“Terutama kau Clarice,”tambahnya”kau
benar-benar bijak.Kau mampu berpikir walau keadaan sangat kacau.Kau pun
memikirkan teman mu di atas segalanya.Kau lah yang akan menjadi kapten di
kelompok mu.Nah,Kirie yang akan memimpin kalian ke HomeBase kalian.Aku
permisi dulu..”kata Cedric sebelum menghilang dibalik pintu.
“Dia
sibuk,ya...”komentar CJ
“Lewat
sini..”kata Kirie dengan nada datarnya.
Anak-anak
melewati beberapa lorong panjang.Awalnya Marco mencoba untuk menghaflakan
jalan-jalan di akademi ini,namun setelah 15 menit berjalan ia menyerah,memang
academy ini sangat luas.Saat mereka mengintip ke salah satu kelas,betapa
terkejutnya mereka mendapati kelas yang cuma berisi 10 anak kecil yang hampir
seumuran mereka.
“Ya,nurturer
muda memang sulit di temukan..”kata Kirire menjawab pertanyaan di pikiran
anak-anak.
“Dia punya sixth
sense ya...”bisik CJ pelan.
“Ssh..Nanti
ketahuan..”balas Clarice cepat
Setelah itu
suasana diliputi keheningan.Tak ada yang berani berbicara.Sampai akhirnya
mereka sampai di sebuah tangga yang tak mengarah kemana pun.
“Batu
kalian?”kata Kirie tiba-tiba.
Satu persatu
mereka memasukkan batu mereka ke mangkuk air di depan tangga seperti yang di
perintahkan Kirie.Saat batu terakhir di celupkan tangga batu itu bergeser dan
berubah menjadi sebuah tangga spiral.
“Kamar kalian di
atas.Simpan batu kalian baik-baik.Itu kunci ke homebase kalian.”terang Kirie
sebelum ia pergi.
“Hei,ini
keren!!Ayo,yang terakhir payah!!!”CJ berlari yang diikuti Marco dan Fern.
“Dasar anak
kecil..”komentar Clarice sebelum akhirnya ia dan Karen mengikuti jejak ke-3
temannya.
Ruangan di ujung
tangga itu tampak indah dan bersih bahkan lebih luas dari bayangan ke-5 anak
itu.Semuanya memilih tempat tidur masing-masing. Clarice memilih tempat tidur
di dekat jendela,Karen mengmabil tempat tidur di sebelahnya,sementara CJ dan
Marco memilih tempat tidur yang dekat dengan tangga spiral.Fern mengambil
tempat tidur yang tersisa di samping tempat tidur Clarice.Melihatnya,Marco dan
CJ mulai tertawa geli.
“Kenapa?!”Fern
menatap Marco dan CJ penuh curiga.
“Nggak...Kami
nggak dapat terimakasih nih...”seru CJ
“Terimakasih
buat apa??”tanya Fern
“Buat....itu...”CJ
emnunjuk tempat tidur Fern.Dengan cepat Fern berbalik ke arah CJ dan mengambil
semua barang CJ lalu melemparnya ke arah tempat tidurnya.
“Puas!!Aku mau
mandi!!!”teriak Fern keras sambil mengambil pakaiannya.
“Fern,arahnya ke
sana.”kata Marco sambil emnunjuk arah yang berlawanan.
“Ya.A,aku
tahu!!”seru Fern cepat sambil sedikit berlari.
Walau sekilas
Clarice dapat melihat wajah Fern yang memerah.Ia baru tahu kalau Fern punya
ekspresi seperti itu.
No comments:
Post a Comment